ISBN: 978-979-222-231-9
Halaman: 200 Halaman
Tahun: 2008
Penerbit: Media Pressindo
Harga: Rp. 28.000
Halaman: 200 Halaman
Tahun: 2008
Penerbit: Media Pressindo
Harga: Rp. 28.000
SINOPSIS
Di bawah langit Sydney, Ryan mencoba menahan perasaannya. Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk menyatakan cinta. Tapi Ryan yakin, akan selalu ada cinta untuk Naya dalam hatinya. Hari ini, esok, entah sampai kapan...
Ryan menatap Naya, dalam. "Kalau lo sayang Ega, lo harus perjuangkan cinta lo itu. Karena lo harus yakin, akan selalu ada orang yang menunggu lo dengan sejuta penantiannya dan berkata, 'I always love you'. Jangan pernah takut dan menyerah, cintaa itu pasti lo temukan."
Selepas SMA, Naya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Sydney. Keputusan itu membuatnya harus berpisah jauh dengan kekasihnya, Ega. Selama di Sydney, tiba-tiba Naya kehilangan kabar tentang Ega. Ega tidak pernah lagi menghubunginya. Di saat-saat sepi itulah, Ryan hadir, mengisi kekosongan hati Naya. Naya pun bimbang, apakah dia harus mempertahankan cintanya pada Ega, ataukah harus memilih untuk mengakhirinya?
Ryan menatap Naya, dalam. "Kalau lo sayang Ega, lo harus perjuangkan cinta lo itu. Karena lo harus yakin, akan selalu ada orang yang menunggu lo dengan sejuta penantiannya dan berkata, 'I always love you'. Jangan pernah takut dan menyerah, cintaa itu pasti lo temukan."
Selepas SMA, Naya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Sydney. Keputusan itu membuatnya harus berpisah jauh dengan kekasihnya, Ega. Selama di Sydney, tiba-tiba Naya kehilangan kabar tentang Ega. Ega tidak pernah lagi menghubunginya. Di saat-saat sepi itulah, Ryan hadir, mengisi kekosongan hati Naya. Naya pun bimbang, apakah dia harus mempertahankan cintanya pada Ega, ataukah harus memilih untuk mengakhirinya?
CUPLIKAN
NAYA melihat cowok yang sedang duduk di atas kursi roda itu. Ega! Dia tampak segar sekali hari ini. Rambutnya telah dicepak lagi. Dia juga memakai jeans dan polo shirt warna putih. Ega tengah tersenyum manis pada Naya.
“Hai…” sapa Naya.
“Hai juga…” balas Ega.
“Kamu tampaknya jauh lebih baik ya, Ga?”
“Begitulah!”
Naya duduk di sebuah bangku kecil, di samping Ega. “Tadi siapa yang antar kamu ke sini, Ga?”
“Adelia. Tapi, sekarang dia udah pulang…” Ega meraih tangan Naya. Digenggamnya erat. “Aku udah lama nggak pegang tangan kamu kayak gini. Hangatnya masih sama.”
Sebelah tangan Naya menyentuh pipi Ega yang tampak pucat itu. Diusapnya pipi Ega lembut. “Aku kangen kamu, Ga. Berbulan-bulan aku menanti kabar dari kamu.”
“Aku juga kangen kamu.” Ega mencium punggung tangan Naya. “Aku selalu menunggu kamu. I always love you…”
Air mata Naya menitik, “Ga, jangan tinggalin aku ya? Aku nggak mau kehilangan kamu…”
Ega mengusap pipi Naya yang basah, “Kamu jangan nangis, Nay. Aku nggak akan ke mana-mana.”
“Aku takut, Ga…”
“Nggak ada yang perlu ditakutin, Nay. Aku masih di sini.”
Naya menghambur ke pelukan Ega. Air matanya tumpah di sana. Ega mengusap rambutnya. Naya ingin selalu ada Ega di sampingnya. Tapi dia tahu, waktu Ega tuh nggak lama lagi. Ega mencium puncak kepala Naya. Tak terasa air mata Ega juga ikut turun. Naya melepaskan pelukannya dan menatap Ega.
“Kamu juga nangis, Ga?” tanya Naya lirih.
“Nay, sekarang aku udah nggak bisa apa-apa. Aku lumpuh. Aku sakit! Aku nggak bisa lagi jagain kamu kayak dulu. Aku hanya bisa buat kamu sedih, aku…”
Naya meletakkan jari telunjuknya di bibir Ega, “Don’t say anything! Aku nggak peduli sama apapun. Aku hanya ingin melihat kamu bahagia. Janji sama aku, kamu akan melakukan terapi ya?”
“Iya, aku janji.” Ega tersenyum. Diusapnya rambut Naya. “Kamu juga janji jangan sedih lagi ya? Kamu nggak boleh nangis! Coba deh kamu senyum!”
Naya mengembangkan senyumnya, “Udah?”
“Kamu manis kalau senyum…”
“Ngerayu nih?”
“Nggak, aku jujur.” Ega mengenggam lagi tangan Naya, “Nay, aku mau peluk kamu lagi, boleh?”
“Boleh!”
“Tapi sambil berdiri!”
Naya menaikkan alisnya, “Kamu bisa?”
Ega tidak menjawab. Dia mencoba bangkit berdiri. Keringat mengucur deras. Dia berusaha keras. Mungkin rasanya sakit sekali. Naya mencoba membantu, tapi ditolak Ega. Sampai akhirnya Ega mampu untuk berdiri dan terjatuh!
“Aku emang nggak bisa…” Ega kembali menitikkan air mata.
Naya memeluknya, “Kamu bisa, Ga. Suatu hari kamu pasti bisa berdiri lagi. Ini semua memang salah aku! Kenapa juga aku meninggalkan kamu. Aku sayang kamu, Ga. Sayang banget…”
“Aku juga sayang kamu…” jawab Ega lemah. Tanpa Naya sadari, darah keluar dari hidungnya Ega.
“Jangan tinggalin aku ya, Ga?”
“Aku nggak akan ke mana-mana.”
“Kamu pasti bisa sembuh. Kita akan sama-sama lagi. Kita akan melihat bintang malam lagi. Kayak dulu. Kamu harus kuat ya? Kamu harus terapi ya? Ega…” Naya merasakan tubuh Ega menjadi lemas. Ternyata Ega sudah tidak sadarkan diri! Hidung dan mulutnya mengeluarkan darah! “Ega, bangun! Kamu baik-baik aja kan, Ga? Ega jawab aku!”
Darah terus mengalir dari hidung dan mulut Ega. Apa yang sebenarnya terjadi pada Ega? Naya panic. Dipeluknya kepala Ega. Didekapnya erat. Tangisnya tumpah. Perih merambati hatinya.
“EGAAAAA!!!!!!”
“NAYA…” terdengar suara seorang cowok memanggil nama Naya. Dilihatnya sekeliling, namun Naya tidak menemukan seorangpun di sana. Yang ada hanyalah kegelapan. Tidak ada secercah cahaya di sana.
“Naya…” kembali didengarnya suara seorang cowok.
“Ega?” Naya berjalan menyusuri jalan lurus yang begitu gelap. Dia sendirian, tidak ada seorangpun di sana. Di mana dia sebenarnya? Naya terus berjalan.
“Naya…” suara Ega kembali didengarnya.
“Ega, di mana kamu?” Naya mengitarkan pandangannya. Lalu dilihat ada secercah sinar di ujung sana. Dia berharap menemukan Ega di sana. Dan benar! Ega tengah tersenyum melihat kedatangan Naya.
“Aku sayang kamu, Naya…” kata Ega. Dikembangkannya sayap putih yang ada di balik tubuhnya dan mulai mengepakannya.
“Aku juga sayang kamu, Ega…”
“Maafkan aku, Naya.”
“Ega, tunggu! Jangan tinggalkan aku! Kamu boleh membenciku! Kamu boleh marah sama aku! Jangan pergi! Jangan tinggalin aku! Aku mohon, Ga…” Naya jatuh berlutut. Ega menghilang bersama cahaya itu.
“EGAAAA!!!!”
“Hai…” sapa Naya.
“Hai juga…” balas Ega.
“Kamu tampaknya jauh lebih baik ya, Ga?”
“Begitulah!”
Naya duduk di sebuah bangku kecil, di samping Ega. “Tadi siapa yang antar kamu ke sini, Ga?”
“Adelia. Tapi, sekarang dia udah pulang…” Ega meraih tangan Naya. Digenggamnya erat. “Aku udah lama nggak pegang tangan kamu kayak gini. Hangatnya masih sama.”
Sebelah tangan Naya menyentuh pipi Ega yang tampak pucat itu. Diusapnya pipi Ega lembut. “Aku kangen kamu, Ga. Berbulan-bulan aku menanti kabar dari kamu.”
“Aku juga kangen kamu.” Ega mencium punggung tangan Naya. “Aku selalu menunggu kamu. I always love you…”
Air mata Naya menitik, “Ga, jangan tinggalin aku ya? Aku nggak mau kehilangan kamu…”
Ega mengusap pipi Naya yang basah, “Kamu jangan nangis, Nay. Aku nggak akan ke mana-mana.”
“Aku takut, Ga…”
“Nggak ada yang perlu ditakutin, Nay. Aku masih di sini.”
Naya menghambur ke pelukan Ega. Air matanya tumpah di sana. Ega mengusap rambutnya. Naya ingin selalu ada Ega di sampingnya. Tapi dia tahu, waktu Ega tuh nggak lama lagi. Ega mencium puncak kepala Naya. Tak terasa air mata Ega juga ikut turun. Naya melepaskan pelukannya dan menatap Ega.
“Kamu juga nangis, Ga?” tanya Naya lirih.
“Nay, sekarang aku udah nggak bisa apa-apa. Aku lumpuh. Aku sakit! Aku nggak bisa lagi jagain kamu kayak dulu. Aku hanya bisa buat kamu sedih, aku…”
Naya meletakkan jari telunjuknya di bibir Ega, “Don’t say anything! Aku nggak peduli sama apapun. Aku hanya ingin melihat kamu bahagia. Janji sama aku, kamu akan melakukan terapi ya?”
“Iya, aku janji.” Ega tersenyum. Diusapnya rambut Naya. “Kamu juga janji jangan sedih lagi ya? Kamu nggak boleh nangis! Coba deh kamu senyum!”
Naya mengembangkan senyumnya, “Udah?”
“Kamu manis kalau senyum…”
“Ngerayu nih?”
“Nggak, aku jujur.” Ega mengenggam lagi tangan Naya, “Nay, aku mau peluk kamu lagi, boleh?”
“Boleh!”
“Tapi sambil berdiri!”
Naya menaikkan alisnya, “Kamu bisa?”
Ega tidak menjawab. Dia mencoba bangkit berdiri. Keringat mengucur deras. Dia berusaha keras. Mungkin rasanya sakit sekali. Naya mencoba membantu, tapi ditolak Ega. Sampai akhirnya Ega mampu untuk berdiri dan terjatuh!
“Aku emang nggak bisa…” Ega kembali menitikkan air mata.
Naya memeluknya, “Kamu bisa, Ga. Suatu hari kamu pasti bisa berdiri lagi. Ini semua memang salah aku! Kenapa juga aku meninggalkan kamu. Aku sayang kamu, Ga. Sayang banget…”
“Aku juga sayang kamu…” jawab Ega lemah. Tanpa Naya sadari, darah keluar dari hidungnya Ega.
“Jangan tinggalin aku ya, Ga?”
“Aku nggak akan ke mana-mana.”
“Kamu pasti bisa sembuh. Kita akan sama-sama lagi. Kita akan melihat bintang malam lagi. Kayak dulu. Kamu harus kuat ya? Kamu harus terapi ya? Ega…” Naya merasakan tubuh Ega menjadi lemas. Ternyata Ega sudah tidak sadarkan diri! Hidung dan mulutnya mengeluarkan darah! “Ega, bangun! Kamu baik-baik aja kan, Ga? Ega jawab aku!”
Darah terus mengalir dari hidung dan mulut Ega. Apa yang sebenarnya terjadi pada Ega? Naya panic. Dipeluknya kepala Ega. Didekapnya erat. Tangisnya tumpah. Perih merambati hatinya.
“EGAAAAA!!!!!!”
“NAYA…” terdengar suara seorang cowok memanggil nama Naya. Dilihatnya sekeliling, namun Naya tidak menemukan seorangpun di sana. Yang ada hanyalah kegelapan. Tidak ada secercah cahaya di sana.
“Naya…” kembali didengarnya suara seorang cowok.
“Ega?” Naya berjalan menyusuri jalan lurus yang begitu gelap. Dia sendirian, tidak ada seorangpun di sana. Di mana dia sebenarnya? Naya terus berjalan.
“Naya…” suara Ega kembali didengarnya.
“Ega, di mana kamu?” Naya mengitarkan pandangannya. Lalu dilihat ada secercah sinar di ujung sana. Dia berharap menemukan Ega di sana. Dan benar! Ega tengah tersenyum melihat kedatangan Naya.
“Aku sayang kamu, Naya…” kata Ega. Dikembangkannya sayap putih yang ada di balik tubuhnya dan mulai mengepakannya.
“Aku juga sayang kamu, Ega…”
“Maafkan aku, Naya.”
“Ega, tunggu! Jangan tinggalkan aku! Kamu boleh membenciku! Kamu boleh marah sama aku! Jangan pergi! Jangan tinggalin aku! Aku mohon, Ga…” Naya jatuh berlutut. Ega menghilang bersama cahaya itu.
“EGAAAA!!!!”